Jombang, 17 Januari 2026
Dukungan terhadap KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) untuk maju sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus menguat. Kali ini, dua poros alumni pesantren dengan basis kultural dan struktural yang kuat—Alumni Ploso dan Forum Alumni IKAPPMAM Nusantara—menyatakan sikap tegas mendukung Gus Salam karena rekam jejak organisasi yang dinilai matang, konsisten, dan teruji.
Bagi kedua forum alumni tersebut, Gus Salam bukan figur yang muncul secara tiba-tiba dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Ia adalah kader NU yang tumbuh dari proses panjang, ditempa melalui jenjang struktural yang jelas, serta mengabdi dalam organisasi dengan spirit khidmah khas pesantren.
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur ini dinilai memiliki kapasitas kepemimpinan yang lengkap—mampu menjembatani dimensi kultural pesantren dan tata kelola struktural organisasi NU. Penilaian ini sejalan dengan pandangan Forum Silaturahmi Kader NU se-Dunia yang sebelumnya menegaskan bahwa Gus Salam memenuhi seluruh prasyarat formal dan substantif untuk memimpin PBNU.
“Dari segi usia, pematangan, proses pendidikan, dan pengalaman di struktur PBNU itu sudah. Persyaratan formal juga clear,” ungkap Juru Bicara Forum Silaturahmi Kader NU se-Dunia, Mohammad Syukron Dosi.
Alumni Ploso memandang rekam jejak Gus Salam sebagai bukti kepemimpinan yang lahir dari proses, bukan karbitan. Sejak awal kiprahnya di Lembaga Bahtsul Masail NU, berlanjut di Syuriyah PCNU, hingga menjabat Katib PBNU dan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, Gus Salam dinilai memahami denyut organisasi NU dari akar hingga pucuk.
Sementara itu, Forum Alumni IKAPPMAM Nusantara melihat Gus Salam sebagai figur pemersatu yang mampu menjaga kesinambungan tradisi keilmuan pesantren sekaligus menjawab tantangan organisasi NU di era modern. Bagi alumni Denanyar, rekam jejak panjang tersebut menjadi jaminan bahwa kepemimpinan PBNU ke depan berada di tangan yang memahami adab, mekanisme, dan etika berorganisasi.
Meski perjalanan Gus Salam tidak selalu mulus, termasuk dinamika pemberhentiannya dari PWNU Jawa Timur, kedua forum alumni sepakat bahwa hal tersebut justru menunjukkan keberanian bersikap dan keteguhan prinsip dalam berorganisasi. Dinamika itu dipandang sebagai bagian dari proses pendewasaan kepemimpinan, bukan catatan yang menghapus kontribusi panjangnya di NU.
Kolaborasi dukungan dari Alumni Ploso dan Forum Alumni IKAPPMAM Nusantara ini menegaskan satu hal: dukungan kepada Gus Salam dibangun di atas rekam jejak, kapasitas, dan khidmah, bukan sekadar sentimen personal atau genealogis.
Di tengah kebutuhan NU akan kepemimpinan yang matang, berpengalaman, dan berakar kuat di pesantren, Gus Salam dipandang sebagai sosok yang mampu merawat jam’iyyah, menguatkan jamaah, dan menjaga marwah NU di tingkat nasional maupun global.
Kontributor: Aang Fatihul Islam

