Jombang, 17 Januari 2026
Gerak besar itu akhirnya menemukan muaranya di pesantren. Bukan dari panggung politik, bukan pula dari ruang-ruang elite kekuasaan, melainkan dari dapur spiritual Nahdlatul Ulama: Pesantren Ploso dan Denanyar. Dua poros pesantren tua ini kini menyatukan langkah, mengusung satu nama yang diyakini memiliki kelayakan sanad, kapasitas keilmuan, dan kejernihan batin untuk memimpin jam’iyyah terbesar di dunia: K.H. Abdussalam Shohib (Yai Salam).
Isyarat itu sesungguhnya telah lama bersemi. (KH. Ali Makki Zaini (Gus Makhi) dari Banyuwangi, alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, menyampaikan dawuh penuh makna dari Mbah Yai Nurul Huda Djazuli. Dawuh singkat namun menghunjam, khas pesantren:
“Iki lho dadekno Ketua NU.”
Sebuah penunjukan yang bukan sekadar ucapan, melainkan legitimasi ruhani yang dalam tradisi pesantren kerap lahir dari keheningan panjang dan kejernihan ma’rifat.
Isyarat itu kian terang ketika Gus Baha’ bin Hannan menantu Mbah Yai Nurul Huda—menyowankan persoalan ini kepada Abahnya, Yai Hannan Kwagean. Jawaban sang kiai sepuh bukan pernyataan panjang, melainkan petunjuk yang justru menegaskan kemantapan:
“Lak wis tak kandani seh, bapak moro sepuhmu iku waskito, ndadak ate takon aku iki, yo wes jelas seh.”
Tak perlu banyak tanya. Yang sepuh telah melihat lebih jauh.
Dukungan pun mengalir dari generasi pesantren yang lain. Gus Makhi juga menyampaikan aturannya Gus Kautsar yang lugas dan jujur:
“Nek Makde (panggilan Gus Kautsar ke Gus Salam) ora maju yo aku reya-reyo ae, mboh mrono mboh mrene. Tapi nek Gus Salam siap maju yo bakal tak dukung penuh. Wis wayahe ndukung wong e dewe.”
Kalimat sederhana itu menyimpan semangat kolektif: saatnya mendukung kader sendiri, yang tumbuh dari rahim pesantren, mengabdi tanpa pamrih, dan memahami NU bukan sebagai organisasi, melainkan sebagai amanah peradaban.
Sikap resmi pun ditegaskan. Alumni Ploso secara penuh menyatakan dukungan kepada Yai Salam untuk maju sebagai Ketua Umum PBNU. Bukan hanya wacana, melainkan kesiapan melangkah dengan tindakan nyata.
Pertanyaan berikutnya pun mengemuka: Bagaimana dengan Denanyar?
Jawabannya datang tegas dan menenangkan. Ketua Umum IKAPPMAM Pusat, mewakili alumni Denanyar, menyatakan kesiapan mendukung penuh Yai Salam. Memang sempat ada kegundahan mengingat agenda pengajian rutin IKAPPMAM cabang sesuai amanah Mukernas yang diasuh langsung oleh Yai Salam, dikhawatirkan akan terdampak bila beliau mengemban amanah besar sebagai Ketua Umum PBNU.
Namun angin segar datang dari Dr. Aziz Ja’far. Dengan penuh keteduhan disampaikan bahwa Yai Salam tetap berkomitmen menjalankan pengajian tersebut, tinggal mengatur jadwal agar seluruh amanah dapat tertunaikan. Sebuah sikap yang mencerminkan karakter kepemimpinan pesantren: tidak meninggalkan yang kecil demi yang besar, karena semua adalah ladang khidmah.
Kini, dukungan itu bukan lagi bisik-bisik. Ia telah menjadi ikrar moral dan spiritual dari dua poros besar pesantren.
Bismillah
Dari pesantren untuk jam’iyyah.
Yai Salam menuju Ketua Umum PBNU.
Kontributor: Aang Fatihul Islam

